Thursday, March 20, 2008

PACARKU JIWO...

Pacarku jiwo…

Saat embun belum turun, Jiwo mengayuh sepeda ke pasar

Udara dingin dan langit gelap hanya ditelan pahit

Menggenggam erat-erat uang lima belas ribu

Modal jualan hari ini

Kakinya tak gentar mengayuh sejauh tujuh puluh kilo menuju ke desa seberang

Kata Jiwo, harga telur dan daging disana lebih murah

Maka seperti inilah dia sekarang, tanpa keluhan, tanpa lelah, tanpa takut

Melintasi hutan mawea yang lebat, gelap, sunyi dan angker…

Bapakku pernah cerita, dihutan mawea sana hidup beribu-ribu jenis siluman buaya

Cerita aneh yang benar-benar dipercaya oleh orang-orang desa seperti kami yang tidak tamat sd.

Itu yang membuat harga sembako di desa mawea lebih murah

Karena tidak ada orang yang mau jalan sampai ke pelosok sana untuk belanja

Biasanya penjual-penjual beras grosir dari kota cuma mentok sampai ke lumbung padi desa kami saja

Tidak ada yang pernah menyebrang, kecuali Jiwo…

Jiwo tidak tamat sd, bahkan tidak pernah sekolah, tapi dia tidak percaya dengan betapa megahnya cerita hutan mawea berkembang di masyarakat kami

Baginya, kelangsungan hidup kesebelas adik-adiknya lebih penting daripada cerita tak bersumber itu

140 kilo setiap pagi tidak berarti apa-apa baginya…

Pacarku Jiwo tidak pernah belanja banyak untuk persediaan martabak telor keesokan harinya

Dia bilang, belanja setiap hari, biar bahan-bahan tetap seger

kata rentenir yang ngasih dia modal, sebutannya Pres Prom Di Oppen!

Disaat matahari sedang diatas ubun-ubun kepala

Pacarku Jiwo mendorong gerobak kearah kota, sambil memukul-mukul sutil ke kuali besi, Jiwo berteriak-teriak “Martabak!! Martabak!!”

Berjalan beratus-ratus kilo, sendirian, sepi…

Tidak kenal panas, apalagi hujan

Jiwo terus berjalan, menjemput rejeki…

Sandal jepit yang sudah aus dan hampir putus kadang terasa panas.

Beberapa kali Jiwo singgah ke mesjid untuk solat dan melepas peluh sejenak

Tak ada raut sedih, kesal, dan lelah

Tak pernah ada keluh yang keluar dari bibirnya yang kering

Jika melihat anak-anak berseragam sekolah, dia tersenyum

Teringat akan kesebelas adik-adiknya…

Pacaku Jiwo, baru kembali ke rumah pukul satu dini hari

Badan direbahkan, walau tidur berhimpit-himpitan dalam rumah gubuk seluas 6x6 meter, namun bibir tetap menyungging senyum…

Senang, karena melihat adik-adiknya tertidur pulas

Satu-satunya kenikmatan yang bisa dirasakan orang miskin

Jiwo adalah permata dalam hidupku

Berlian dalam mimpiku

Zamrud dalam hatiku

Tubuh kekar dan hitam legam, ditempa oleh kerasnya hidup

Namun dia selalu saja bersyukur

Mengajarkanku untuk tidak pernah mengeluh

Dalam doanya, ada nama ibu bapaknya, adik-adiknya dan namaku…

No comments:

Post a Comment