Sunday, September 6, 2009

Beda..

bermula pd 5 thn yg lalu,
aku memberanikan diri utk lebih memilih mencintai satu org yg berbeda. sampai sekarang,bahkan kami tidak pernah benar-benar berpisah. karena kami memang tidak pernah menyatu. kisah kami akan terus mengalir begitu saja, indah tanpa syarat...

Terkadang aku selalu berfikir, knapa hatiku, gravitasi bahasa tubuhku, pilihan hidupku, apapun yg kualami dgn cinta dan sosok yg lain, akhirnya balik-balik ke peluknya lagi...
“gimana, bisa jawab soal-soalnya?” tanyanya pada suatu siang lewat telpon.
“Duh..aku mau nangis nih. Kayaknya aku byk yg salah deh. Sampe lemes bgt badan ini mikirinnya. Aku takut gak lulus.” Jawabku sambil tidur menatap langit-langit kamar. “loh,kok ada yg aneh ya?”
“aneh knpa?” tanyanya lagi
“ini prtama kalinya kamu gak marah-marahin aku...”

Memoriku terputar tanpa dipaksa pada satu kejadian siang itu, yg akhirnya memunculkan perasaan aneh dihatiku, cinta.
Setelah itu, semua berjalan tdk sperti biasa. Dia memutuskan pergi jauh. Membawa hatiku dan hatinya. Kami menjalani hal yg brbeda sendiri, brjuang masing-masing, mngejar obsesi sendiri-sendiri, tertawa dan menangis sendiri, jatuh, hancur, dan bangkit sendiri-sendiri. Namun benang-benang halus kasat mata menarikku padanya lagi.
Malam itu, bbrapa tahun yg lalu, kami berdua, menikmati pesta kembang api piala dunia, mnciptakan satu lagi memori di otakku ttg dia. Dia msh sosok yg sama. Tak brbeda sedikitpun. Aku tak merasa kehilangan secuilpun darinya. Cara jalannya, bentuk bahunya, raut mukanya saat diam, sorot matanya saat bosan, perhatian penuhnya saat ngomong dgn orglain, cara tangannya memegang tas, wangi tubuhnya, tawa penuhnya saat senang, senyum simpulnya saat melihat kembang api, wajah ikhlasnya saat nemenin aku belanja, smuanya masih ada.

Malam itu, dia sempat mencoba menghancurkan dinding perbedaan diantara kami, kata-katanya saat itu masih kuingat jelas “setidaknya kita masih bisa nyoba dulu kan?”

Berat rasanya menjawab pertanyaan yg aku sendiri tak sanggup memutuskannya. Ingin sekali bisa dgn lantang bicara padamu “jgn takut apapun, krna aku juga mencintaimu...”

Maaf, namun aku sendiri takut, aku takut karna kita sgt berbeda, aku terlalu takut, takut menjadi jauh lebih mecintaimu.

Aku tahu kau juga merasakan ketakutan itu. Kau paham jurang perbedaan itu terbentang luas di depan kita, dan kau melihatnya. Jadi mungkin, walau kita tidak pernah membahasnya. Kau dan aku tahu, bahwa kita lebih nyaman seperti ini.

Kau menyulam asa dengan caramu sendiri. Dan aku mengumpulkan rasa dengan caraku sendiri. Saat itu, aku sedang berdiri mematung di ruang tunggu bandara dgn ponsel di telinga kanan. Kau katakan “nanti kapan-kapan kita lihat kembang api lagi ya..” aku merasakan suaramu bergetar, airmataku pun tumpah. Lalu fikiranku melayang, setidak pasti itukah akhir kisah kita ini?

Knapa malam ini aku hanya bisa terduduk, melamun dengan segelas teh menikmati hening bercampur rautmu. Karena ternyata kau masih ikhlas, tanpa beban kau katakan takut aku dimiliki org lain lagi. Aku tersenyum, iya... 3 tahun ini aku sgt lelah, seharusnya aku memang tidak perlu memilih org lain lagi dan meninggalkanmu sendiri menunggu. Walau kau tahu bagaimanapun aku akan kembali pada wangi tubuhmu lagi. Namun sayang, kita masih belum bisa memastikan, apakah kita benar-benar bisa berani menyatukan perbedaan itu..?

Saturday, July 4, 2009

Masa-Masa Tersulit...

Aku sedang berada pada satu kondisi dimana aku sangat ingin melepaskan sesuatu yang sebenarnya sudah lama sekali aku nikmati. Seperti orang yang ingin lepas dari kecanduan obat. Yang sulit sekali dilupakannya adalah rasa nikmat saat-saat dia memakainya. Namun dia tetap bersikeras ingin melanjutkan hidup dan berhenti menikmati racun itu.

Aku terjebak pada racun yang nikmat selama 3 tahun terakhir. Aku sangat kesulitan mendeskripsikannya seperti apa, maka lebih baik katakan saja racun yang nikmat. Setiap perpisahan yang terjadi, terasa begitu berat dan menyakitkan. Namun, tetap ada sudut hati yang mengatakan aku harus sesegera mungkin melakukannya.
Aku ingin berbicara pada seseorang dan mengatakan : aku ingin sekali melanjutkan hidup!

Yang bisa kulakukan hanya diam, padahal yang kurasakan sekarang seperti, diam ini lama-lama akan membunuhku. Aku tetap ingin diam, tidak ingin berbicara pada siapapun. Karena selama ini setiap perpisahan itu terjadi. Pembicaraan kesana-kemari yang menjadi bumerang pada kami. Maka aku hanya diam. Mungkin sampai mati.

Aku menangis diam-diam, tersiksa diam-diam, dan hanya berbicara pada diri sendiri diam-diam didalam kamarku. Membiarkan telingaku mendengar pembicaraan mulutku sendiri, membiarkan hatiku merasakan pedihnya sendiri, ketika mulutku bertanya, biarkan dia menjawab pertanyaannya sendiri. Dan aku sangat tersiksa karena sendiri dalam masa-masa tersulit ini.

Aku mulai merasakan dampak racun itu hari demi hari. Sendiri seperti ini, menegaskan bahwa aku sesungguhnya benar-benar kehilangan teman karena terlalu fokus mengurusi hubungan ini. Dan bahwa aku terlalu kecanduan kebersamaan dan kebahagiaan luar biasa sesaat sehingga aku merasa sakit jika sendiri seakan kehilangan pegangan. Karena menurut agamaku, tidak seharusnya aku merasa kehilangan yang mendalam selain kehilangan agama dan Tuhanku. Tidak seharusnya aku merasa kesedihan yang mendalam selain karena ditinggalkan agama dan Tuhanku.

Lalu aku selalu bertanya, bagaimana menghilangkan kecanduan ini dengan segera? Aku tidak ingin terisolasi dari dunia dan kehidupan. Aku ingin segera bangkit dan mencari pengganti. Apa aku harus merasakan sakit ini berkepanjangan sendirian. Aku ingin lepas dan merdeka!

Lewat tulisan ini, aku berbicara. Berbicara yang tidak aku lakukan pada siapapun sekarang, padahal aku ingin sekali melakukannya. Aku ingin ada yang mendengar, aku ingin punya teman bicara sekarang. Teman yang hanya diam saat aku bicara, mendengar saat aku menangis dan berbicara saat aku telah diam. Teman yaang tidak menyalahkanku atas keadaan yang terjadi, memberikan kepercayaan sepenuh hati bahwa aku tak akan kembali. Teman yang mengerti dan membantu, agar aku tidak berfikir untuk kembali dan berusaha melepaskan semua dengan ikhlas.

Aku butuh seseorang untuk berbicara apa yang ingin aku dengar, bahwa semua perpisahan baik yang diinginkan atau tidak pasti akan membawa kesedihan, maka anggaplah ini masa-masa yang normal, bukan masa-masa sulit. Tidak ada manusia yang bisa sembunyi dari kesedihan. Maka kesedihan yang tidak berlebihan adalah suatu yang wajar. Ini adalah suatu kondisi dimana setiap perempuan harus menghargainya. Kondisi dimana perempuan berani bangkit dari keterpurukannya atas laki-laki dan berani mengambil keputusannya sendiri. Dan yang harus disyukuri, perempuan berani memikul beban dan tanggung jawab yang timbul atas keputusan yang dibuatnya: sebuah perpisahaan yang rumit dan menguras emosi.

Manusia tidak pernah berhak atas manusia lain, sekalipun seorang ibu kepada anaknya. Karena setiap manusia akan mengalami perpisahan dalam hidupnya masing-masing. Jadi jagalah hati, untuk menganggap orang yang kita sayangi bukan milik kita sepenuhnya, cepat atau lambat dia akan pergi.

Masa-masa kebersamaan jangan menjadi penghalang untuk kita memutuskan sesuatu atau membuat kita ragu-ragu ingin kembali atau pergi. Kenangan indah adalah suatu efek cinta yang biasa. Semua orang yang bercinta merasakannya. Maka anggaplah itu suatu hal yang biasa pula. Simpan baik-baik di satu sisi ruang hati dan jangan berusaha membukanya lagi jika memang tidak ingin membukanya.

mTataplah pagi dengan senyum pada saat dirimu terbangun dan mendapati keadaan telah berubah dari yang sebelumnya, bahwa kau sekarang sendiri. Kesendirian bukan hal yang menakutkan, karena dia tidak kekal. Sebentar lagi, pasti Tuhan memberimu hadiah seseorang yang lebih baik dari yang telah meninggalkanmu. Maka, jangan bersedih!