Friday, November 23, 2012

someone will call me 'mom'


minggu demi minggu terlewat sangat kuat sebagai pengingat
kau sangat menyadarkanku bahwa kau ada didalam sana
bersanding dengan organisme lain dan dianggap asing
keasingan itu membuatku sangat tidak nyaman, makan, tidur, dan bergerak.
dunia serasa akan runtuh.
namun kau begitu aneh, karena kau satu-satunya ketidaknyamanan yang menyenangkan.

lalu enam belas minggu pun terlewat
semakin hari kau semakin besar
mengintip kegiatanmu sedikit saja,
mendengar jantungmu berdetak diperutku
setiap kata seperti ditahan waktu yang berhenti melaju, aku takjub...
makhluk mungil dan pintar yang dititipkan Tuhan padaku ini begitu lucu.
bergerak-gerak tak bisa diam.
bermain dalam area paling nyaman buatnya, rahimku.

setiap bulan melihatmu berkembang itu adalah keindahan kecil yang sederhana
melihat kepalamu telah terbentuk, tangan dan kaki mulai terwujud
telinga mulai medengar, mata yang sudah mampu menangkap cahaya
otot yang mulai kuat, mulai menghisap jari, mulai cegukan...
kesempurnaanmu yang mulai lengkap, melengkapi hidupku.

hari-hari untuk menyambutmu mulai dekat sayang.
aku dan ayahmu semakin tidak sabar
kami begitu menikmati saat-saat menjagamu di perutku
memilihkan baju, tempat tidur, dan sepatu mungil untukmu

hadirmu telah dinanti
untuk mengubah hidup dan perasaan semua yang menyayangimu
kau ada karena kebahagiaan dan lahir juga dengan kebahagiaan.
maka terjadilah...

sesungguhnya bukan aku yang sedang mengandungmu
namun kau yang mengandungku untuk sampai pada waktunya nanti, aku terlahir kembali.
menjadi seseorang yang lebih bijak
yang berjuang untukmu setiap saat
seseorang yang selalu mampu hadir dalam setiap momen dihidupmu
seseorang yang rela melakukan apapun demi tercapainya cita-citamu
menjadi guru terbaik
menjadi sahabat terbaik
menjadi seorang ibu
sepanjang hayatku... 

Sunday, January 29, 2012

- waktu -

23.05 WIB
Kutekan sakelar lampu kamarku, cahaya menyilaukan mataku yang sembab. Angin yang masuk dari jendela sudah berhenti mengibas-ngibas tirai. Kusingkap tirai panjang itu lalu duduk dibaliknya, melipat lututku rapat ke dada, kusinggahkan dagu diatas tungkainya. Aku lebih nyaman seperti ini dari kecil jika ingin sendiri. Aku senang tumbuh bagai pemikir.
Aku sedang berfikir tentang hal-hal yang tak mudah dijelaskan melalui konteks. Dan aku sangat ingin mengabaikannya. Aku ingin harmoni yang lebih fleksibel. Ingin menangkapnya dari hati lewat angin yang kutatap dari balik jendela, karena ku sangat yakin, Tuhan selalu punya jawaban tersirat atas setiap pertanyaan yang kadang tak mudah kita ketahui.

00.01 WIB

Jam dinding berdetak lebih cepat dari detak jantungku. Nelangsa mengambil alih pacunya. Entah mengapa akupun mengalah. Nelangsa ini sangat memegang teguh konsistensinya dalam alur nadiku. Bagiku, cinta yang begitu menyiksa tidak masuk akal. Yang kutahu hanya satu, aku ingin bahagia. Tapi apakah, tetap berdiri disampingmu, mendampingi walau banyak tangis merupakan salah satu dari konsep bahagia?
Sungguh aku tidak ingin tahu jawabannya. Iya, tidak ingin saja.
Aku terlalu bermain-main dalam kenaifan
Mataku menerawang jauh ke langit malam nan megah. Disana tergambar jelas rautmu dan aku. Relung ini masih punya tenaga untuk memutar balik pertemuan pertama kita. Saat itu terjadi reaksi kimia yang bahkan aku dan kamu tak tahu cara mengendalikannya.
Kita bertemu,
Kita jatuh cinta,
Dan saling menyakiti
Dalam lingkaran waktu yang rumit
Padahal kita hanya menjalani takdir Tuhan
Mataku menangkap bayang raut wajah di pantulan kaca jendela
Menatap lurus penuh nanar, yang kulihat hanya wajah takdir itu
Matanya sembab karena tangis. Sinarnya redup, pancaran dari hatinya. Rambutnya kusut, seperti harapannya pada romansa.
Bahunya lunglai. Lelah berjuang untuk bangkit pada seseorang yang justru selalu membuatnya jatuh.
Ironi yang kelihatannya manis.
Berputar waktu dari itu, dia terlihat senyum setegar dan segagah karang
Sebuah muslihat yang membanggakan…
Dari detik membunuh detik sebelumnya, itu yang selalu kulakukan
Padahal aku ingin tetap setia pada kejujuran airmata, yang selalu berhasil mengartikan rasa hati dengan baik.
Namun aku selalu gagal
Kau mengajarkanku berlaku bagai bingkai bibir, berbicara saja, dan biarkan orang lain menebak itu dari hati atau bukan.

01.20 WIB
Kelam mulai terbentuk, malam mulai menunjukkan agungnya. Aku takut tenggelam dalam gelapnya dan gelapmu.
Kau persis seperti wajah malam, menakutkan tapi dicintai…
Aku mencintai dalam palung ketakutan terdalam, sangat menyiksaku
Aku ingin kau mengerti dalam setiap apa yang menggelayut di benakku
Tidak menuntut pembenaran, cukup mengerti saja.
Ingin saat aku terdiam, tidak bisa berkata-kata akibat luapan emosiku
Kau menatap mataku dalam, juga tanpa kata, hanya tersenyum hangat…
Senyum itu, mampu meruntuhkan semua emosi…
Ingin saat seluruh denyut nadiku seakan berhenti dalam batas yang paling rendah
Mataku meredup kehilangan semangat, kakiku seakan melayang tidak menyentuh bumi
Melayang diantara bingung, sedih, dan ingin menyerah…
Cukup kau katakan maaf yang tulus
Yang selama ini hanya kau ucapkan begitu saja
Aku ingin sekali saja, kau abaikan tuntutan hormat, ego, dan benci
Aku ingin menatap matamu dengan yakin akan mendengar maaf yang tulus
Lalu melingkarkan penuh tangan kuatmu di sekeliling bahuku
Memelukku dan membuatku nyaman menangis semalaman
Membisikkan dengan lembut ditelingaku, aku mengerti karena aku mencintaimu…

02.00 WIB
Dalam setiap bulir benakku, tergambar jelas kisahmu
Bagaimana kau tertawa senang, diam, dan bagaimana gerak bibirmu saat mengatakan mencintaiku
Untuk waktu yang terus berjalan mengitari takdir kita
Aku hanya ingin mengatakan
Apapun yang terjadi sekarang dan nanti, dibalik benci, emosi, kebingungan, semangat, dan harapan
Aku bahagia menikmati waktu itu. Raih tanganku, bawa aku ke tempat yang seharusnya, hingga waktu menghabiskan usiaku, aku terus disitu, bersamamu…

Best Man


Suatu hari nanti aku pasti akan menikahi lelaki terbaik.
Namun sepanjang hidup dan matiku kau tetap menjadi lelaki terhebat yang pernah kumiliki... love u always Dad.

Saturday, December 24, 2011

Garis Hati


Ada hening panjang yang kami suguhkan pada waktu berkali-kali
jeda yang ada hanya airmata yang tak pernah bohong mengartikan isi hati.

sesekali bibir bicara ini-itu,yang terkadang lebih sering salah menyampaikan isi hati
dan akhirnya,penyesalan pun datang untuk mengkristalkan sesuatu yang paling jujur itu, airmata...

kau memaksa dam merampas tubuhku kepelukmu, untuk apa?
aku sudah tau sebelum kau utarakan.
bukannya selama ini aku yang selalu menyambung kalimatmu sebelum kau selesaikan?
aku yang selalu menyimpulkan arti dari ekor matamu saat aneh melihat sesuatu.
aku yang selalu datang kepelukmu sedetik sebelum tanganmu memutuskan untuk mendekap...
aku yang selalu tahu kau sedang menyembunyikan kesalahan hanya karena kecupan berkali-kali dikeningku.
jadi aku sudah tahu sebelum aku menangis, aku akan dihadiahi kata maaf.

kau memacu nafas dengan deru jantung tinggi dalam gelap mata
dikuasai emosi yang engkau sendiri tak tahu ujungnya dan maksudnya

tanpa sadar luapanmu itu menutup rongga dada...
kata yang keluar berasal dari kerongkongan dan merah mata
bukan dari hati...

setiap aku mengingat nada-nada tinggi yang selalu kau suguhkan sesegar uap panas dari gelas kopi pagimu, jantungku mengilu...
dan segera memacu airmata keluar saat kuingat betapa kau ingin dimaafkan setelahnya
aku bingung...

sebagaimana aku sangat paham, waktu tak mengenal kata mundur
maka aku terus menatap lurus, masa depan kita...

dalam diamku aku belajar percaya dalam ketidakyakinan
belajar sabar dalam ketidakpastian

percaya aku mampu terus bangkit dalam ketidakyakinan akan kekuatanku sendiri
sabar dalam ketidakpastian seberapa dalam sabarku

jujur aku hanya ingin dipeluk, benar-benar disaat suka, benar-benar disaat duka...

aku hanya ingin dekapan hangat menenangkan
disaat kau benar-benar gembira
disaat kau benar-benar marah....
agar aku tetap percaya dalam ketidakyakinanku
kau menginginkanku saat kau gembira
dan tak mau melepaskanku hanya karena kau marah...

Sunday, August 28, 2011

Renungan


Hari ini, malam 26 Ramadhan. Hanya tinggal beberapa hari menuju akhir. Bagiku setiap ramadhan selalu menjadi titik renungan. Merenung untuk memulai syawal yang indah. Merenung bukan berarti berhenti bergerak, duduk diam, berfikir, lalu tidur. Merenung berarti menegur diri sendiri atas apa yang telah dilakukan, diputuskan, dan yang telah gagal dilakukan.

Ramadhan kali ini bagai sebuah momentum titik tertinggi untuk sepanjang tahun yang telah kulalui. Tahun ini, aku ada dipuncak terendah, tertinggi lalu meninggalkannya dengan penuh keyakinan.

Dengan penuh yakin aku masuk ke satu institusi, yang sangat menempa mentalku. Aku sempat terpuruk karenanya. Pisah dengan orangtua, ditempat baru dan asing. Sebuah keterpurukan akibat pilihan yang terburu-buru.

Tapi dengan itu, aku banyak belajar tentang takdir Tuhan, tentang rasa cinta dan kehangatan keluarga, tentang kemandirian, sifat dan perilaku budaya lain dan juga, ikhtiar…

Saat itu ayahku pernah bilang “kita kadang sering tidak yakin dengan diri sendiri bahwa kita bisa. Padahal sebenarnya ya kita memang bisa, kalau ikhtiar.”

Karena aku mau, maka aku yakin. Karena aku yakin, maka aku berusaha. Dan usaha itu membawa hasil. That management seeing on me. Because they’re seeing, they’re believing. And put me on extra comfort zone and job I ever had.

Tapi tahukah sebenarnya? Manusia didunia tidak membutuhkan tempat yang nyaman dalam hal apapun. Dalam pekerjaan, karir atau cinta. Karena tidak selamanya nyaman itu berarti baik. Manusia hanya butuh tempat yang ‘tepat’ baginya. Tempat yang nyaman belum tentu tepat bagi kita, tapi tempat yang tepat sudah pasti nyaman. That’s why human resources management focus is ‘the right people on the right place’

So here I am, the right people on the wrong place.

Keluar dari comfort zone ini bukan perkara mudah. Aku sudah terlanjur berada dalam lingkaran penting sebuah institusi. Atasanku bukan sekelas kepala kantor lagi. Dia pemegang kendali utama. Tapi ‘keluar’ adalah hak setiap orang yang bekerja, itu landasan keyakinanku. Apapun alasannya dan bagaimanapun caranya.

Langkah besar ini kufikirkan berbulan-bulan. Kata mama yang penting yakin. “fikirkan baik-baik. Tanya hati. Jika ragu, berarti tidak. Jika yakin, berarti iya. Katakan Aku Yakin!!!. Dan Allah ada bersama kata yakin itu.”

Dan keputusan besar itupun kuambil setelah pertanyaan mama yang menyadarkanku : kenapa kamu punya agama? Apa karena kami (orangtua) punya agama? | Karena aku percaya ada Tuhan | Kenapa kamu percaya? Pernah lihat? | Enggak, karena aku yakin Dia ada dan bekerja.|

Singkat, tapi cukup menjelaskan pada diriku sendiri untuk berlaku; yakinlah lalu lakukan.

Lahir dari sebuah keyakinan sekarang aku disini, ditempat yang aku yakini teduh. Secara mental dan lahiriah. Inilah tempat yang tepat buatku. Aku menyebutnya kembali ke ‘rumah’. Karena sebenarnya aku pernah berada disini dua tahun lalu, saat baru saja lulus kuliah.

Saat baru pertama kali menginjakkan kaki ‘lagi’ aku berbisik dalam hati “welcome home sarah…” sambil tersenyum.

Inilah yang sangat penting dalam hidup. Tentang perasaanmu sendiri dan bagaimana engkau memandang dirimu itu. Bukan bagaimana orang lain memandangmu. Tentang mengikuti kata hati untuk sebuah keputusan, dan lupakan apa kata orang akibat keputusan itu. Kita tidak bisa menjadi besar atau kecil berkat perkataan orang lain.

Masa transisi adalah masa dimana aku tutup telinga, mata dan hati untuk tidak menggubris apapun yang dikatakan orang terhadapku. Kenapa aku keluar dan atas alasan apa. Totally that’s their own business, not mine at all.

Setiap perubahan tidak pernah mudah, pasti ada rintangan yang dapat mengganggu fokus. Maka jangan pernah menoleh. It’s so blessed when we know what we really want in life, and so great when we can achieve it. Jadi aku tidak ingin mempertaruhkan apa yang telah kucapai hanya untuk mendengar perkataan orang.

‘Rumahku’ sekarang tempat dimana aku menempa kebahagiaan. Bagaimanapun tidak ada manusia yang mampu bahagia dengan mudah. Semua butuh perjuangan. Disini aku berkali-kali jatuh, menangis, dan hampir menyerah. Sebagian besar terjadi di ramadhan kali ini. Sungguh cobaan yang indah. Tapi berkali-kali juga aku kembali tersenyum, bangkit, dan berdiri tegak. Semua karena aku telah yakin, dan bertanggung jawab atas keyakinan itu. Maka aku menjadi lebih ikhlas saat jatuh dan dengan mudah bangkit lagi. Aku bahagia.

Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony -Mahatma Gandhi-

Aku merasakan keselarasan itu…

Ramadhan ini membuatku berfikir ulang tentang apa yang telah kualami, semua keputusan, pembelajaran, dan keyakinan untuk berubah dalam hidup yang telah kulakukan. Karena dibulan spesial ini kita diberi kesempatan untuk berubah menjadi hamba yang lebih baik.

It is not the strongest of the species that survives. Nor the most intelligent. But the one most responsive to change -Charles Darwin-


Semoga ramadhan ini, menjadi momen pembelajaran untuk perubahan sepanjang tahun terakhir yang telah kita lakukan masing-masing. Menjadi pribadi yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, sahabat, dan di mata Allah. Dan syawal nanti kita dapat terlahir suci kembali. Fitrah lahir dan batin.

Saturday, August 13, 2011

Kado Kedua


Ketika kabut lenyap karena turunnya hujan, itu adalah kau...

Ketika angin berbicara pada ranting : kuhembuskan daun keringmu untuk yang baru.
harapan itu... adalah kau.

ketika plasenta melindungi janin dengan gagah namun lembut... itu adalah kau.

ketika penulis menumpahkan hasrat pada gerak pena pada kertasnya
tetap itu adalah kau...


aku mencari suaramu dalam gerak angin
angin tetap sumbang...
karena hembusan yang sebenarnya harus berpadu dengan bibir dalam nafasmu
itu sebenarnya kau.

jika merindu, aku mencari bentuk parasmu dalam gugusan bintang
bintang tetap menyebar.
karena matamu harus bertemu dengan hidungmu yang sempurna dan senyum yang melebihi cerahnya bintang... maka itu baru kau.

saat kusendiri membeku dalam dingin
sekonyong-konyong kau datang
mendekapku penuh dalam dadamu
menangkupkan kepalaku dan membisikkan, cinta...
yang terdengar biasa, namun punya makna
sangat sederhana, namun sempurna...

lalu aku tak peduli yang lain
dekapmu dalam nafas penuh kasih, meruntuhkan segalanya...
segala yang negatif, benci, sakit, dan ego
seluruh magnet tubuhku bergerak mencari medan megnetnya dalam tubuh yang berbeda,
tubuhmu...

kau dan aku berpadu dalam dua nafas, dua tubuh, dua raut, dua darah
namun sedang berjalan menuju satu rumah
dimana kau dan aku tak dapat berhenti tersenyum walau satu detik

jadi jangan pernah memintaku berjanji untuk selamanya ada dalam jangkau tanganmu
aku yang memang tak bisa melepas...
genggam tanganku, aku akan menggenggam tanganmu lebih erat
aku tak akan melepaskannya sampai kau yang melepasnya lebih dulu.

Selamat ulang tahun Sayang...
I'll always standing here right beside you.

Monday, May 16, 2011

Menuju-MU

Aku bersimpuh…

Bukan karena surga sudah terjanji

Tapi karena Engkau…

Hening dalam ributku

Pelipur dalam laraku

Maha Pencipta dan Maha Penghancur.

Yang menjadikan bumi sebagai hamparan

Gunung-gunung sebagai pasak

Menjadikan manusia berpasang-pasangan

Malam bagai selimut, dan siang untuk penghidupan

Yang membangun tujuh langit yang kukuh

Dan pelita amat terang, matahari…

Ya Allah… dalam gundah, Kau ada antara nafas dan istighfar-ku

Saat syukur, Kau ada antara senyum dan sujudku

Hanya Engkau, yang kuyakin tanpa kulihat.

Semesta kelabu, menyapu cahaya…

Langit pun jadi sendu

Dan lalu aku menangkupkan tangan menundukkan kepala

Yang terbatas mengadu pada yang Maha Tiada Batas

Bahwa aku raga, yang empunya Engkau

Kaulah yang menentukan konsep hidup

Bahwa aku jiwa yang tiada daya. Engkaulah yang Maha Daya.

Kepala yang tunduk, menundukkan egoku.

Memahatkan sabarku…

Tiada bantah akulah yang lemah

Aku terus belajar, agar pantas disebut yang Engkau janjikan

Memuliakan hamba-hamba yang sabar.

Ya Mujibas saa-iliin…

Pintaku terlalu banyak tak terbendung

Ingin menginjak surgaMu

Ingin mulia di mataMu

Ingin jodoh terbaikMu

Ingin rezekiMu

Ingin rahmanMu.. ingin rahimMu

Allah…

Apa aku pantas..??

Dalam tunduk…dalam hening…

Aku ingin menyusuri jalan lurus menujuMu ya Allah…

Nanti, kembali dalam pangkuanMu

Jika pasti aku mati, biarlah itu hanya ma’rifat kepadaMu…

Apabila langit terbelah dan patuh kepada Tuhan-nya. Dan sudah semestinya langit itu patuh. Dan apabila bumi diratakan. Dan dimuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong. Dan patuh kepada Tuhan-nya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju TuhanMu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.

(Al-insyiqaq :1-6)

Thursday, March 3, 2011

PILIH


ini bukan tentang maju atau menyerah
ini tentang menyelaraskan harapan dengan kenyataan
tentang meninggalkan mimpi yang satu
untuk meraih mimpi lain yang lebih tinggi
karena mimpi seperti hidup jua, kadang harus memilih...

Tuesday, February 15, 2011

Men - Cinta - i


Baiklah -aku fikir- aku ingin menulis jujur malam ini. Menelanjangi diri diatas kertas dan tak peduli. Bukannya selama ini -setelah banyak orang tahu dan komentar tentang tulisanku- aku menjadi tidak jujur dalam menulis. Bukan sama sekali. Mungkin kondisi dimana manusia menuntut diri sendiri untuk menciptakan yang lebih dari sebelumnya setelah ia dipuji adalah sesuatu yang manusiawi. Normal. Tapi itu membuatku jadi lebih ‘peduli’ seperti : bagaimana nanti? Apa kata mereka tentang yang ini. Bagian yang itu. Alur seperti ini. Ide yang itu.

Pertanyaan seperti itu muncul setelah, ya… aku mengalami pendewasaan karakter dan gaya dalam menulis, tulisanku mulai dibaca lebih banyak orang. Lalu aku kehilangan sesuatu yang tak kusadari. Prinsip yang kutanamkan dari kelas 3 SD dulu saat pertama kali aku bisa menulis sesuatu : Pikir, Tulis dan Tak peduli…

Tak peduli, adalah kunci terakhir yang membuatku mendapat oksigen lebih banyak setelah menulis. Lega.
Tak peduli, terakhir tapi penting. Agar kejujuranku dalam menulis tetap terjaga. Tanpa tekanan, beban, dan tujuan palsu. Bukannya seni seharusnya seperti itu. Jujur dan bebas.

Jadi malam ini tanpa peduli. Aku akan menanggalkan satu persatu benang yang membalut kejujuran itu sendiri.

Malam ini. Jujur.
Aku sedang tercekat. Leherku sakit. Klise kedengarannya. Tapi aku tak malu mengatakannya. Jujur. Aku sedang menahan tangis.
Entah tangis macam apa yang sedang kutahan untuk keluar. Aku sungguh tak berani untuk tahu. Aku sungguh tak punya kekuatan untuk mengeluarkannya dari leherku agar kutahu seperti apa rasanya.

Malam ini. Jujur.
Aku mulai berfikir ulang tentang salah satu takdir Tuhan “Mencintai Seseorang”
Aku berfikir bagaimana sebenarnya rasa “Mencintai Seseorang” itu.
Aku mulai menerka.
When you love someone, kau tak peduli rupa dan raga.
Mencintai seseorang itu adalah ketika kau sudah kehilangan rasa, gairah. Tapi kau tetap peduli padanya.
Mencintai seseorang itu adalah saat kau jatuh cinta berkali-kali dan selalu pada orang yang sama.

Ketika kau mencintai seseorang, kau menjadi bodoh dan pintar disaat yang bersamaan. Kuat dan lemah disaat yang sama. Jatuh dan bangkit lagi di waktu yang sama. Hal-hal yang mustahil terjadi bila kau sedang tidak mencintai seseorang.

Mencintai seseorang itu adalah ketika hormon dopamin, norepinefrin, dan serotonin menyatu sempurna dalam tubuh yang bisa menyebabkan manusia kecanduan, denyut jantung meningkat, dan tidur lebih larut.

Mencintai seseorang itu adalah ketika kau masih merindukannya meski dia sedang memelukmu.
Kau ingin dia ada disetiap jengkal waktu yang melalui hidupmu. Kau ingin dia tahu, warna apa yang sedang bersemayam dalam hatimu. Merah atau kelabu. Gembira atau sedang sendu.

Malam ini. Jujur.
Aku tidak bisa memastikannya dengan tepat atau tidak. Apakah sekarang aku sedang mencintai seseorang atau hanya dicintai seseorang.
Tiba-tiba aku kehilangan sensitivitas rasa dan tidak mampu membaca apa yang kuingin dan kurasa.
Jika diberi pilihan, aku akan berkata “terserah”
Jika ditanya kenapa, aku akan menjawab “tidak tahu”
Bukan karena aku marah atau malas. Tapi karena aku memang terlalu lemah untuk memilih dan aku tidak tahu alasannya kenapa.

Aku telah membayangkan bagaimana dan dimana seharusnya jika aku dan kamu saling mencintai. Namun aku tidak tahu kita dimana. Kita tidak berada di titik yang ada dalam bayanganku itu.

Mencintai seseorang itu adalah ketika kau masih merindukannya meski dia sedang memelukmu.
* iya, aku memeluknya setiap kali kami bertemu, dan aku masih selalu rindu.

Kau ingin dia ada disetiap jengkal waktu yang melalui hidupmu.
* iya aku ingin, tapi dia tidak selalu ada.

Kau ingin dia tahu, warna apa yang sedang bersemayam dalam hatimu. Merah atau kelabu. Gembira atau sedang sendu.
* tidak setiap waktu. Kadang aku bersembunyi . seperti malam ini. Aku sedang tercekat . menahan tangis hingga leherku sakit. Aku tidak ingin dia melihat. Maka aku beringsut ke pangkuannya, menyembunyikan wajah sebisa mungkin. Menutup mata menahan airnya. Biarlah dia fikir aku sedang tertidur pulas. Aku hanya tidak ingin dia sedih dan merasa bersalah karena tangisku.

Lalu jika begini. Adakah yang bisa menjawab agar aku yakin. Apakah sekarang, aku sedang “mencintai seseorang”?

Monday, February 7, 2011

SEDERHANA


“Kau mau apa Pri?”

Tiada yang terdengar selain hening yang merajai kita dan sepotong puisi tak selesai. Diantara kita, terbentang bermil-mil jauhnya dinding egosentris.
Aku rasakan hela nafasmu, tapi aku tak tahu muaranya. Atau mungkin karena kau sama seperti ibuku. Berkelamin wanita. Yang katanya, sangat sulit diterka.
Mataku ke arahmu, yang sedang memandang rembulan. Tolong jangan bilang indah. Aku sudah mendengar itu beratus-ratus kali dari mulut setiap wanita. Bulan itu diterangi matahari. Kau mau bilang benalu seperti itu indah?

“Kau mau apa Pri?” dengan nada lebih rendah dari teguran pertama.
Ah, tapi percuma saja. Bukannya menjawab, kau malah membasahi bibirmu dengan lidah.
Membuatku semakin tak berdaya…

Bisakah kau bicara Pri?
Bahkan untuk sekedar memakiku pria bajingan atau hidung belang.
Aku ini apa?
Kekasihmu atau patung yang sedari tadi menemanimu terlentang diatas pasir pantai memandangi langit berombak kelabu.

“Kamu melihat apa diatas sana?”

“Kamu…”
Aku terdiam… memangnya rumahku dilangit?

Wanita rapuhku ini lantas mengepalkan jari-jarinya. Diletakkan diatas telapak tanganku yang terbuka. Lalu kubungkus erat kepalannya dengan jari-jariku.
Pri memang suka begitu. Katanya lebih hangat dan dirajai.

“Setiap aku rindu kamu. Aku selalu melihat langit. Menggerakkan awan-awan itu dengan jariku agar membentuk wajahmu. Lalu kugapai-gapai, supaya bisa mengelusmu.”

Nafasku tertahan. Terlalu rapuh anak kecil ini. Bagaimana aku bisa meninggalkannya sendirian.

“Tapi kamu nggak boleh cemburu dengan langit. Aku tidak menduakanmu seperti kau menduakanku. Aku hanya mencari pelipur.”

Dia tersenyum. Cantik sekali. Seperti pertama kami bertemu waktu kecil dulu. Pipinya bulat seperti apel. Merah merona jika tersipu malu. Apalagi dulu, saat pertama kali kuhadiahkan kupu-kupu. Dalam plastik. Kutangkap. Untuknya saja.

“Bagaimana kabar anak-anakmu? Leah kemarin ulangtahun kan? Kau dan istrimu tidak mengadakan pesta?”
Dia benar-benar tersenyum saat menanyakan ini. Entah untuk apa. Agar terlihat ikhlas, tegar, atau tersiksa.

“Sudahlah Pri. Aku tidak mau membicarakan mereka saat bersamamu. Aku tidak bisa sering menemuimu. Waktu yang singkat ini jangan dihabiskan untuk hal yang tidak penting.”

Wanita ini kembali tersenyum, matanya masih tetap memandangi langit gelap. Kepalan tangannya masih kugenggam.
“Aku kesini hanya untuk minta maaf. Karena beberapa kali aku tidak memenuhi janji menemuimu.”

“Tidak apa. Bukannya aku sudah biasa?”
“Tapi tolong jangan diamkan aku seperti beberapa hari kemarin. Tolong Pri. Aku tidak bisa kehilanganmu…”

Pri masih saja diam. Aku tidak memiliki keberanian untuk berkata lebih banyak. Aku tidak ingin memberikan tekanan lebih kuat lagi.

***

Dua puluh menit berlalu. Kami belum bicara apapun. Hanya bermain dengan fikiran masing-masing. Aku tidak tahu Prisa. Mungkin dia hanya benar-benar diam saja.
Kadang memang itu lebih baik, daripada bicara sesuatu yang belum tentu bisa ditanggung akibatnya. Jadi lebih baik diam.

Aku mengumpulkan banyak kemungkinan jawaban jika kutanya apa maunya. Mungkin dia ingin aku segera bercerai. Mungkin dia ingin bunuh diri saja. Mungkin dia ingin dia yang ditinggal. Mungkin dia ingin menghentikan polemik cinta ini dengan membunuh aktornya. Aku.

Dengan segenap keberanian aku lalu bertanya.
“Pri, kau mau apa?”

Airmata menggantung di sudut kelopaknya.
“Aku ingin dipeluk”


Dan wanita kecilku itu menangis, dipelukanku. Sepanjang malam hingga subuh…

***

Wednesday, January 26, 2011

C.A.N.D.U


Lenting mata sudah gelisah
Tubuh rebah pada pagi yang sudah terlanjur,
Gerimis…
Aku keluar, menginjak rumput basah
Dengan semua tumpukan elegi berbahasa sendu mengunung-gunung.
Rasa membuncah…
Aku ingin mati saja.
Sore ini kalau bisa…
Tapi jika kumati, kau dengan siapa?

**

Gerimis ini, aku tidak suka…
Jatuh sebagai pembuka, halus kecil tak terasa…
Aku lebih suka hujan lebat
Besar dan berarti…
Seperti caraku mencintaimu…

**

Lenting mata sudah sangat gelisah
Hitamnya bergerak kesana-kemari, mencarimu…
Kakiku sudah kedinginan, hampir beku…
Aku ingin tidur denganmu seperti biasa
Menikmati kaki hangatmu menimpa kakiku
Tanpa menyentuh tubuhku
Agar aku terjaga sepanjang malam tanpa diganggu

**

Dibawah gerimis yang kubenci ini
Aku berlari,
Dari kesepian yang berubah wajah dari damai menjadi momok…
Dari dingin yang selalu memenuhi ruang otak dengan belenggu
Aku benci dengan orang-orang munafik ini
Tempat ini kotor, semuanya.
Ucapan. Pujian. Gerakan. Semua munafik.
Hingga tak sudi kuhirup udaranya
Karena juga munafik.

**

Aku hanya ingin kamu…
Yang memberikanku keganjilan dari sejak aku lahir ke dunia
Lalu menggenapkannya saat pertemuan pertama kita.
Hanya kamu…
Yang selalu memahami maksudku sebelum kata kuucapkan.
Iya, memang hanya kamu…
Yang sudah mengenali setiap jengkal tubuhku
Aku tidak ingin berselingkuh dengan sentuhan lain
Kamu. Canduku.

**

Dimana kau Fu…?
Dimana kau menjejakkan kaki…?
Aku ingin ketempatmu itu.
Hanya untuk bilang satu,
Aku RINDU.

Friday, December 17, 2010

Wish Without Clover


Aku sudah dewasa. Umurku sudah 23 tahun. Iya… sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Aku belajar sungguh-sungguh saat sekolah. Belajar, mengejar prestasi, dan coba-coba pacaran saat kuliah. Dan sekarang telah mandiri dengan bekerja. Aku merasa seperti itu.
Tapi jangan pernah tanya begini sama ayahku “Sarah sekarang udah besar yah pak?” Jawabannya akan selalu “Ah… Enggak. Masih manja.” Dan akan selalu seperti itu entah sampai kapan.
Ayah selalu setia dengan fikiran bahwa -You’re just my little girl- dan aku juga mencoba menyukai kata-kata itu setiap saat.
Suatu pagi aku pernah protes dari balik selimut, saat ayah melakukan rutinitas paginya : masuk ke kamarku, buka tirai, buka jendela kamar, matikan lampu, dan membiarkan aku terbangun karena cahaya matahari. “Ayah kok masuk-masuk kamarku terus sih? Aku kan udah gede.”
Ayah jawab dengan santai “Oh… jadi mentang-mentang kamu udah gede, ayah gak boleh masuk kamar kamu lagi?”
Membuatku benar-benar lebih baik tidur lagi ketimbang berdebat.
Aku diberikan kebebasan penuh sekarang. Tapi tidak seutuhnya. Ayah bilang kebebasan ada karena tanggung jawab. Orang yang sudah mampu bertanggung jawab, maka dia bisa diberi kebebasan dirumah ini. Jadi bebas, bukan bablas.

Aku sendiri baru diberikan kebebasan untuk apapun pada umur 20 tahun. Setelah membuktikan aku mampu bertanggung jawab pastinya.
Sebelumnya, ayah dan ibu cinta mati sama aku, sampai-sampai pulang pergi ke sekolah diantar jemput –kecuali SMA, namun tetap harus pulang tepat waktu. Sama sekali tidak boleh mengenal kata pacaran. Tidak ada istilah pulang malam. Malam hanya digunakan untuk belajar, termasuk malam minggu. Saat mulai beranjak dewasa, setiap aku pergi bareng teman-teman, ayah selalu menungguku pulang didepan rumah. Dia tidak akan tidur duluan. Dan banyak lagi aturan untuk anak perempuan yang sedang beranjak dewasa lainnya.
Tapi aku sama sekali tidak pernah sedih karena itu. I always enjoy and have fun. Dan karena masa-masa yang penuh keterbatasan itu, kebebasan yang sudah diberikan sekarang menjadi terasa lebih spesial.
Dulu ayah sama sekali nggak pernah mau dengar dan tau apa aku sedang jatuh cinta? Kepada siapa aku jatuh cinta? Kata ayah, aku masih kecil, dan anak kecil tidak boleh jatuh cinta.
Sekarang, ayah malah selalu mau tahu siapa laki-laki yang kucintai, dan mengkhawatirkanku jika aku berada dikamar saja saat malam minggu. Ayah pasti nanya “Lagi berantem?” dengan wajah serius. Lucu dan menggelikan rasanya.
Ini terjadi beberapa minggu yang lalu. Sesaat setelah pertanyaan lucu di malam minggu itu, aku dan ayah duduk berdua di teras. Sambil merokok ayah tanya “Kamu masih ingat cerita si pangeran buta dan empat daun semanggi?”
Aku terdiam sebentar. Mencari sisi memoriku dan Yap…! right there. Mana mungkin aku lupa. Ayah sudah mencekoki kepalaku sejak umur 3 tahun dengan cerita itu.
Jika aku tahu hari itu ayah pulang kerja sore, bukan malam. Aku selalu senang. Karena kami punya ritual spesial. Duduk diruang tv dengan meja kayu kecil bergambar tweety yang diatasnya terpampang buku besar tebal kumpulan dongeng anak-anak. Dan ayah, selalu dan selalu membacakan cerita “The Blind Prince and The Four-Leaf Clover”
Kira-kira begini…
Disebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang pangeran buta kesepian yang tidak pernah diizinkan raja dan ratu keluar dari istana karena menjadi aib. Dia hanya memiliki teman seekor ikan mas kecil di kolam istana. Ikan mas ajaib ini selalu setia menjadi tempat berkeluh kesah, bercanda, dan bersedih.
Suatu hari ikan mas tidak ceria seperti biasanya. Ia tampak murung. Walau pangeran tidak bisa melihatnya. Namun dia dapat merasakannya.
Lantas pangeran bertanya “Wahai ikan mas ku yang cantik, kenapa suaramu terdengar murung? Apa kau sedang bersedih?”
Ikan mas menjauh, berenang ke sudut kolam, mencoba menyembunyikan aura sedihnya.
“Mengapa kau menjauh dariku?”
“Bagaimana kau bisa tahu aku menjauh?” tanya ikan mas.
“Apa kau lupa? Aku belajar merasakan arah angin. Walaupun aku buta, aku tahu apa yang terjadi disekitarku. Sini… mendekatlah. Katakan mengapa?”
Ikan mas kembali mendekat, bersiap menumpahkan semua kesedihan. “Sebenarnya aku adalah seorang putri. Kerajaanku dihancurkan. Hanya aku satu-satunya keturunan yang masih hidup. Namun, aku dikutuk penyihir jahat menjadi ikan. Aku ingin kembali menjadi putri, pangeran. Aku ingin menjadi manusia lagi.”
“Me-nga-pa?” tanya pangeran terbata karena terkejut.
“Karena aku mencintaimu.” Jawab ikan mas.
Pangeran merasa sangat sedih mengetahui kenyataan itu. Ternyata seekor ikan mas yang selama ini mengisi kesepiannya adalah seorang putri. Namun pangeran tertantang setelah ikan mas mengatakan syarat untuk dia dapat kembali menjadi manusia lagi. Jika ada seseorang yang mampu mendapatkan Clover berdaun empat. Maka ia dapat meminta apapun yang diinginkan.
Pangeran buta itu keluar dari istana megahnya. Mencari dan terus mencari. Memasuki hutan rimba, menerjang hujan dan panas, berkali-kali jatuh dan bangkit lagi. Namun setiap tangannya meraba, yang dirasakannya hanya Clover berdaun tiga.
Sampai suatu hari pencarian itu menemukan ujungnya. Cinta pangeran mencapai tujuannya. The Four-Leaf Clover pun ditemukan.
Dengan tertatih-tatih ia kembali ke istana, bermohon ikan mas nya dikembalikan menjadi putri. Dan pangeran pun dapat kembali melihat dunia. Bukan dengan hatinya, namun dengan kedua mata coklatnya.
Lalu kisahpun dikahiri seperti kata-kata dalam dongeng pada lazimnya : …and they’re live happily ever after…

Waktu aku kecil ayah selalu bilang. Semanggi berdaun empat memang nyata, bukan sekedar dongeng. Daun ini tumbuh di Irlandia dengan simbol kepercayaan :
One leaf is for love be mine.
The second for health.
The third for honor, glory.
The fourth for riches.

Tapi ayah selalu menekankan, ini bukan tentang Clover. Ini tentang perjuangan. Kau tidak bisa melihat pelangi tanpa kehujanan dulu.

Malam itu, di teras rumah. Ayah bilang, jangan takut jatuh, jika memang kamu sedang jatuh cinta.
Seiring berkali-kalinya dongeng ini ayah ceritakan. Semakin banyak contoh perjuangan yang dapat kuartikan. Tidak hanya tentang cinta. Tapi hidup itu sendiri.
Malam ini, aku tertegun melihat ayahku. Dia tetap menungguku saat pulang larut malam dari kantor, tertidur di sofa panjang didepan tv. Aku merasa menjadi anak kecil dalam kedewasaan. Ayah bukan sekedar belum tidur karena nonton tv. Aku salah. Ternyata ayah memang menungguku.
Kupikir rutinitas menungguku telah berhenti sama seperti rutinitas membacakan dongeng The Blind Prince and The Four-Leaf Clover.

Tanpa Four-Leaf Clover, aku memohon pada Tuhan. Aku tidak ingin kehilangan serangkaian rutinitas ini : masuk ke kamar dan menyuguhkan matahari lewat jendelaku pagi-pagi, menganggapku selalu ‘gadis kecil’nya, menungguku pulang kerumah hingga larut malam, memberiku kebebasan yang indah, mencintai ibu, aku dan adik-adikku, menunjukkan pada kami bagaimana perjuangan cinta yang sesungguhnya.
(Perjuanganku lewat doa)

Tuesday, November 30, 2010

Kala Cahaya


Kurebahkan tubuh lelahku disalah satu sofa resto ini. Kulirik jam dengan ekor mataku, satu jam lagi, batinku menjawab. Cukup untuk mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah ada selama satu tahun ini. Aku terus mengingat, khawatir ada yang terlupa.

Kalau sehari saja aku selalu bertanya lima kali, maka nanti akan keluar 1825 pertanyaan yang harus dijawabnya untuk menghabiskan rasa marahku selama setahun ini.

Setahun yang sangat berat bahkan untuk tersenyum ditutup dengan email singkat pagi tadi dari Kala, lelaki yang telah membuat dingin terasa panas, kering terasa basah, imaji terasa nyata, malam terasa siang, benalu terasa raja. Duniaku berputar terbalik. Tanpa kabar, tanpa pamit ataupun bekas, Kala pergi meninggalkanku. Aku marah membaca emailnya, kurasa itu sangat kurang pantas untuk menutup penantian ~tigaratusempatpuluhlima~ hariku.

Dua belas menit berlalu, aku mulai mengotak-atik ponsel, membuka email Kala entah untuk keberapa kalinya. Sebagian hatiku memang ingin memastikan bahwa email itu memang ada, bukan khayalan atau fatamorgana otakku. Namun sebagian besar yang lain karena aku rindu. Hanya melihat email yang dikirim Kala saja rasanya bagai oase, iya aku sangat rindu.

Rindu gigi putihnya saat ia tersenyum lebar. Rindu semangatnya yang meledak-ledak, rindu tangannya yang selalu bergetar menekan shutter canon-nya saat ide keluar deras. Tangan yang tak siap mengimbangi otak. Rindu Kala sang pemikir sederhana yang selalu bilang : masa kamu nulis nunggu inspirasi datang? Nulis itu di tangan sama di jiwa, bukan di inspirasi. Sama kayak motret, penting memang merhatiin diafragma dengan bukaan berapa, membandingkan kondisi cahaya dengan ISO yang dipakai, mencari angle. Tapi ada yang lebih penting dari itu, hati. Motret pake hati beda dengan motret pake teknik tingkat tinggi. Fotonya lebih jujur.
Airmataku menggantung mengingatnya.
Kala memang seperti itu, sederhana dan indah.

Lima puluh tujuh menit berlalu, perasaan tidak enak menghampiriku, saat sesosok wanita cantik dengan bulu mata palsu memasuki pintu dan melihat ke arahku. Aku menatap bingung. Dia lalu tersenyum. Aku mengernyitkan dahi. Dia semakin dekat menghampiriku, datang sambil merangkul pria gagah disampingnya, seakan tak ingin terbagi…

“Hai Cahaya…”
Aku tercekat…
Suara palsu dan sosok ini sangat kukenal. Sangat. walau berubah menjadi apapun. Aku tidak akan pernah melupakannya. Bertahun-tahun kami bersama hingga kurindu nafasnya.
Lelaki disampingnya tersenyum ramah, ramah yang menjijikkan.
Lalu siapa ini?
Wanita cantik berambut panjang ber-make-up tebal, aku tidak kenal namun merasa dekat, aku tidak mendekap namun terasa hangat.

“Siapa kamu?” tanyaku ragu.
“Kala”
Jawaban singkat, malah terlalu singkat untuk meruntuhkan duniaku.
“Kala? Kala siapa? Kala pacarku?”
Tolong jangan katakan ini benar. Tolong hentikan detik ini. Aku tidak mau ada disini jika ini benar. Tolong bunuh aku. Tolong Kala….

“Iya Cahaya. Dulu… sekarang hanya teman.”
“Anggun suaramu dibuat-buat. Wajahmu bohong. Bagaimana aku bisa percaya? Kala sangat jujur. Kala tidak pernah menyembunyikan apapun dariku.”
“Aku bohong Cahaya, aku selalu berbohong. Kebohonganlah yang membuatku pergi.”

Aku semakin tercekat, tiba-tiba Kala memberiku tisu. Oh, aku menangis rupanya? Apa yang kutangiskan? Aku tidak tahu dan tidak sadar. Aku hanya benar-benar ingin membunuhmu dan pacar lelakimu ini sekarang.

“Ada banyak sekali hal yang ingin kutanyakan padamu Kala.” Gigiku beradu geram.
Aku mencoba mengingat 1825 pertanyaan yang sudah terkumpul rapi. Tapi tidak bisa. Hanya satu yang tersisa : kenapa kau meninggalkanku?

Tapi apa lacur, pertanyaan itu telah terjawab sesaat setelah kulihat dirimu Kala, menggenggam erat tangan pacarmu. Kau terlihat sangat utuh, sementara aku terlihat sangat hampa.

“Cahaya… aku mencintainya.” Tiba-tiba Kala berkata. Berusaha menangkis semua tuduhan yang dilontarkan mataku. Aku berubah dingin, kututup mata, kutundukkan kepala. Mendengarnya saja aku sudah jijik, apalagi melihat wajahnya yang palsu.

“Cinta memang buta Kala, tidak punya mata. Tapi kita punya kan?” sahutku dalam kelam.
Kala terdiam, tiada jawab terlontar, tiada bela yang terucap. Hanya diam dalam taut kebohongan yang ada.

Ini semua benar-benar diluar kendaliku. Tipisnya pemisahan beda yang dilakoni Kala sekarang tak bisa kubaca. Aku sama sekali tak tahu bedanya, apakah berubah menjadi seorang wanita bagi Kala adalah sebuah kejujuran pada diri sendiri atau kebohongan yang sejati. Mungkin baginya, dia jujur, ingin menjadi seperti sekarang. Demi cinta, demi hasrat.

Aku sudah tidak kuat, aku hanya terduduk lesu di sofa ini. Lelaki yang sangat kucintai seluruh jiwa pergi meninggalkanku dengan lelakinya.
Pergilah Kala, pergi yang jauh, bawa mimpi dan hasratmu yang tak mau kumengerti itu. Ambil setengah jiwaku pergi sekarang. Kau telah mengambil sebagiannya setahun yang lalu. Sekarang biarkan aku merasa lengkap. Lengkap ditinggal olehmu. Tak ada cinta tersisa, tak ada janji yang masih tertunda. Aku telah siap menghapusmu.

Sore itu Kala meninggalkan selembar foto. Aku membukanya hati-hati, aku tidak ingin kejutan lagi. Cukup sudah.
Ternyata foto segerombolan kunang-kunang dengan luminescence, bertarung digelapnya malam, banyak dan cantik.
Tertera tulisan tangan dibaliknya.

Judul : Kala Cahaya Menghampiri. Karya : Kala. Bit Depth : 24, Camera Model : Canon EOS 40D, Shutter Speed : 1/60 sec. F-Number : F/5.6 , ISO Speed : ISO-200, Date Picture Taken : 12/08/1998 23:13 PM

Untuk Cahaya :
Aku tidak ingin dimengerti, hanya ingin diterima.
Aku ingin seperti foto dengan data exif, semua orang bisa melihat jati diriku dan bagaimana aku bisa ada.

Sunday, November 28, 2010

Warung Kopi

Riuh redam suara sore ini menggigit kupingku...

warung kopi ini lengkap, menyuguhkan semua kerusuhan yang melunturkan ribut hatiku...

menari didepan mejaku kesunyian dihantarkan melalui bapak tua perokok sendirian

kerut pipinya melukiskan kehampaan amat dalam

dikananku pemuda-pemuda metropolis,

yang lebih meributkan soal otomotif hura-hura dibandingkan cinta...

keempatnya menghisap rokok

duduk disampingku langit,

yang selama ini menjadikanku tanah yang dinaungi dan dilindunginya

berpangku dagu dengan tangan kiri mencari kesenangan hidup dari hasrat booking online konser musik idamannya

tangan kanan memegang rokok, dan perlahan menghisapnya dalam-dalam

langitku sedang diam, dalam balutan kerusuhan dan riuh rendah sore di warung kopi ini

bercinta dengan rokok dan konser musiknya

aku ingin ada disitu. disitu... di dalam hisapan rokokmu...

hisaplah aku... masuk ke dalam ronggamu dan memompa jantungmu

mengalirkan darah ke seluruh sel tubuhmu

dalam sore ini... di warung kopi rusuh ini...

hisaplah aku langit biruku...

Friday, October 29, 2010

Arti "Maaf"

kita bersalah, maka kita meminta maaf.
kita mengecewakan, lalu kita menawarkan maaf.
kita berdusta, lekaslah berkata maaf.

namun tidak semua maaf bisa merubah racun menjadi tawar...

sebuah kecewa seperti paku pada tembok. kau meminta maaf dan mencabut pakunya.
tapi lubangnya tidak akan tertutup. dia akan abadi disana...

aku memaafkanmu sebelum kau minta. kucabut paku itu dengan tanganku sendiri. kusamarkan lubangnya dengan keikhlasan, agar senyum tetap ada. agar kita terus berjalan berdampingan.

karena terus terang. bagiku. maaf tidak terlalu penting, tapi kuat.
cukup kuat untuk menahan langkahku ketika suatu hari nanti aku berniat berlari darimu.
kuat untuk mengangkatku saat aku merasa jatuh karenamu.
cukup kuat untuk menarik dua sisi bibirku tersenyum saat aku menangis karenamu.

kau katakan maaf saja, lalu aku tidak akan berfikir yang lain selain kembali padamu dan memelukmu.

maaf tidak menutup lubang. tapi mencairkan yang beku. seperti hatiku.

cukup matamu katakan maaf. kutangkap. kucerna. kututup sendiri lubang kecewa itu. sudah. kau tidak perlu susah.

jikapun tidak. cintaku sudah cukup besar. sebuah perkara maaf saja tidak akan menguranginya.

Sunday, October 24, 2010

Menyimpan Rahasia

Angin yang dingin, telah membekukan hatiku sejak semalam. aku menyimpan sesuatu didalam sana. dikunci oleh tingginya hasrat.

aku melihat kita. dan berfikir. dengan sangat egois. aku ingin kau menggenggam tanganku erat tanpa jeda. tidak ingin terlepas saat ada yang melihat kita. aku sangat tercinta-cinta. dan ingin semua orang tau keadaannya. tidak peduli bagaimanapun caranya. aku ingin bercinta denganmu seperti orang normal lainnya. aku letih mengendap-endap seperti pencuri.

lalu aku melihatmu, kau begitu ringan. tak pernah berontak atau merasa keberatan. kau melihat mataku dalam. mendekapku erat. menghancurkan bekuan-bekuan hasrat di hatiku. aku malu. aku terlalu nafsu. naif.

kaki dan hatimu yang sejalan untuk menginjak bumi membuat hasrat dan sayap lemahku malu saat ingin terbang sangat tinggi.

aku sangat ambisius sementara kau sangat realistis.

malam ini kau tidak berkata apa-apa. aku juga. mataku menerobos masuk ke matamu. kutatap kau tanpa ampun. bintang-bintang tak bersinar malam ini. mungkin karena sinar matamu lebih indah dari pancaran mereka. dengan begini aku mengerti sebelum kau beri pengertian. aku sabar sebelum kau katakan harus sabar. gelisah itu padam sendiri sebelum diutarakan. airmata membeku sendiri sebelum dikeluarkan.

matamu membuatku mengerti. tanpa perlu banyak orang tau. kita cukup bahagia dengan menjamah cinta dan membaginya untuk kita saja. kau bernafas disampingku. aku bernafas disampingmu. sudah. aku bahagia.

kau beri pelajaran berharga tanpa berkata. cinta bukan tentang siapa-siapa. cinta tentang kita. pun bukan untuk siapa-siapa. tapi hanya untuk kita.

dan akhirnya mataku tertidur dengan senyum malam ini. tidak ada lagi hasrat terlalu tinggi, nafsu, dan ambisi.

walau tak ada cinta yang sempurna. bagiku, cinta kita begitu indah begini adanya...

Wednesday, September 22, 2010

Bersyukur Untuk Mereka...

Aku pernah merasa sangat jatuh dan itu adalah saat aku jauh darimu Yah…
Dulu setiap malam menyapa, aku sangat tidak suka tidur diantara ruang ketakutan yang tak bisa kutembus dengan selimut baja sekalipun…
Dan itu saat aku berada jauh darimu Bu…


Aku mencintai hidungmu, matamu, gurat pipi kerutmu, legam hitam kulitmu karena perjuangan, dan nafasmu Yah…
Aku mencintai caramu mencintaku…


Aku mencintai senyummu, sabarmu, kerut kantung matamu, bahu lelahmu, kulit perut yang tidak kencang karena mengandungku, dan nafasmu Bu…
Aku mencintai caramu memanjakanku…


Aku pernah bertanya - Ibu… untuk apa kau mengurusku hingga sebesar ini? Adakah untungmu? Sedang aku selalu dan selalu membuatmu merugi…
Lalu kau jawab, untuk waktu yang tak pernah mengenal kata ingkar, untuk momen yang nanti akan berbalik padaku. Saat engkau Nak, yang akan mengurusku di hari tua yang pasti datang.
Padahal aku Bu, belum tentu memiliki kesanggupan sempurna untuk itu. Mengurusmu sesempurna kau mengurusku…


Dan aku pun pernah bertanya, Ayah untuk apa kau bekerja siang malam mencari penghidupan untukku? Adakah untungmu? Sedang aku selalu dan selalu membuatmu marah dan cemas…
Lagi-lagi untuk waktu yang tak pernah berdusta menghampiri…
Untuk Kau menghidupiku nanti Nak, saat aku tak bisa lagi memberi apa-apa untukmu, dan untuk sebuah balasan, semoga Kau melakukan hal yang sama untuk cucu-cucuku…


Jadi demi semua nafas yang telah dikorbankan untukku, semua keringat yang telah dikucurkan hanya untuk merangkai senyumku dari kecil hingga sekarang, aku tak pernah berniat untuk berhenti meminta kepada Tuhan Maha Pemilik Kebahagiaan.
Tolong bahagiankanlah mereka sebahagia yang aku telah rasakan selama ini.
Tolong jagalah mereka, sesempurna mereka menjagaku hingga saat ini.

Sesungguhnya jika aku pernah berbuat salah, hanya karena ketidaktahuanku tentang bagaimana cara menyayangi mereka dengan benar.
Karena sesungguh-sungguhnya aku mencintai mereka dengan seluruh nafas dan jiwaku…

ayah, ayah, ayah...

Ayahku seorang yang pendiam, aku terbiasa menceritakan semuanya ke ibuku… Mungkin seorang ibu memang diciptakan lebih hangat daripada seorang ayah.


Namun ayah akan menjadi orang yang sangat aktif bicara ketika dia sedang membicarakan satu tempat : Baitullah Al-Haram, Mekkah.
Aku tidak pernah tahu persis, apa yang dialaminya disana, hanya satu hal yang aku tahu, kota suci itu telah mengubah hidupnya.


Ayah selalu cerita menggebu-gebu: Saat subuh pertama, dua telapak kaki menginjak Masjidil Haram pertama kali –kami tidak pernah melihat ayah menangis, bahkan saat ibunya meninggal– namun mama bilang : saat itu untuk pertama kalinya, didepan Masjidil Haram ayah menangis, sambil matanya menatapi tanpa sela detil mesjid itu, tujuh menara yang mengelilinginya, bebatuan marmer putih yang melapisnya, dan seolah menelan adzannya…


Satu pagi ayah cerita padaku, “Dalam telingaku terngiang seruan Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk memanggil umatNya berhaji di Baitullah setelah selesai membangun ka’bah, dalam hati ayah menjawab –ya… ya… ya… aku penuhi panggilanmu–“

Dan jantungku terasa ngilu mendengarnya…


Aku bertanya penasaran : Memangnya gimana suasana kota suci itu Yah?

Ayah tersenyum “Disana semua orang menanggalkan segalanya, harta, jabatan, status sosial. Kadang ayah sampai lupa, ini Mekkah atau surga?”
Ayah berhenti sejenak, terlihat berfikir dan mengingat-ingat.

“Ribuan orang itu semua beribadah seakan-akan dunia tidak penting lagi untuk mereka. Dan memang iya, dunia sebenarnya tidak terlalu penting. Allah sudah sangat menekankan kalau akhiratlah yang kekal. Dunia hanya jembatan untuk mencapainya. Kehidupan di surga dan neraka itulah yang lebih kekal. Jadi disana, semua orang berlomba-lomba untuk mencapai kekekalan surga. Rasanya rugi kalau ada waktu yang terbuang selain untuk ibadah selama disana.”


Lalu cerita ayah sampai pada hal yang akhirnya membulatkan keputusanku untuk kesana…
~ dan tempat ayah menangis untuk kedua kalinya, Rukun Yamani– ayah berhenti.
~ Rukun Yamani??
~ Sudut yang paling penting pada ka’bah. Sudut paling istimewa. Dalam satu riwayat, Nabi pernah bersabda bahwa setiap beliau melewati sudut ini tampak ada malaikat yang mengucapkan Amiin…. Sebagai jawaban dari doanya. Jadi sudut ini tempat yang baik sekali untuk berdoa.
~ Doa apa yang sangat ayah inginkan terkabul itu sampai menangis?
~ Ada dua, yang satu kayaknya udah terkabul, yang satu lagi Insya Allah.
Pertama, ayah ingin waktu itu kamu secepatnya segera pulang, tinggal dirumah lagi. Ayah capek ngelihat kamu dan ibumu nangis-nangisan ditelpon kalau kamu gak bisa pulang. Dan sekarang terkabul kan?
~ Yang kedua ?
~ Ayah ingin nanti kita semua ketemu disurga –yang lebih kekal.


Dan senyum ayah mengembang…

Thursday, July 15, 2010

"The Answer"

Malam ini hujan sangat deras mengguyur aspal. Tubuhku kelelahan luar biasa, walau malam ini aku pulang tidak terlalu larut.
**********************************

Rumah itu tidak berubah, masih sama seperti dulu. Selalu menebarkan aroma-aroma kerinduan bagi yang meninggalkannya.
Aku tersenyum, berdiri di halamannya…
Aku tersenyum, dan tak bisa berhenti tersenyum.
Sesaat setelah membuka pintu, kehangatan memelukku erat. Mataku buru-buru disergap oleh memori dari setiap sudut yang terpancar.
Kubuka pintu kamarku, kuciumi dalam-dalam udaranya. Aku bergumam dalam hati…
Iya, tempatku memang disini…
*********************************

Aku meraih surat yang dari tadi kuacuhkan itu. Menyingkirkan replika mawar putih kristal yang menahannya dari angin yang masuk dari jendelaku.
Kutarik simpul demi simpul pita yang mengikat amplopnya.
Dan ternyata, tidak akan pernah lagi kubaca surat yang lebih indah dari ini mungkin sampai aku mati.
*********************************

Untukmu, Ning…

Lalu heningpun turun disaat kedua mata masih sayu sembab
Kau merayu-rayu menari dengan cinta didepanku
Menawarkan segala keluh kesah dunia ini…
Terus terang aku tidak mau mengeluh.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada angin yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Jadi tolong tulikan telinga dan butakan mataku atas apa saja yang bisa membuat semua ini pudar…

Ning, ketika kau tersenyum dan mendekap pundakku dengan kedua tanganmu, aku terhenyak seketika…
Kau melindungiku dan duniaku dan jiwaku dan hatiku.
Sambil terus mendendangkan lagu yang kumau, lagu hatimu…
Kau selalu begitu, selalu senang bergelut dengan prinsipmu sendiri.
Selalu menempa hatimu teramat keras…
Sudahlah Ning, aku ingin kau yang sebenar-benarnya,
And one thing I want you to know
When my mouth seems too frozen to speak out
When I feel my breath going suffocate
And my heart just too torn to dance on your skin
And before everything sounds so weird
I just want you to know that, I’m so in love with you Ning…
You are without a doubt the best thing that ever happened to me…
And absolutely, I wanna be your another half…

***********************************

Mataku terasa hangat…
Sekarang aku paham, airmata tidak selalu mewakili kesedihan.
Lalu aku membuka kotak berwarna biru laut di atas meja riasku. Sebuah gaun hitam anggun dengan belt glitter di bagian pinggangnya.
Dan secarik kertas.

Aku tunggu dibawah Ning…
__ Your Half

Jantungku makin berdegup kencang ketika kubuka jendela dan kutemukan lelakiku itu berdiri tersenyum disamping mobilnya dengan setelan jas lengkap. Dia sangat tampan seperti biasanya.
*************************************

Aku melemparkan pandangan keluar jendela. Menghirup wangi tanah setelah hujan yang selalu menjadi favoritku sejak kecil. Ditemani suara katak jantan menggoda katak betina setelah hujan reda… dan menikmati Banana Split yang menjadi dessert kami.
Malam ini, aku bahagia…
Memang terdengar sederhana.
Tapi bagiku, ini cukup untuk melengkapi hidupku untuk selamanya…

***

Sunday, July 11, 2010

Melukismu...

Dan keadaan itu…
Membuat aku ingin beringsut tumpah ke dalam lingkar bahunya.
Karena angin pada saat itu membawa butiran-butiran wangi tubuhnya padaku
Saat aku mendekat melihat wajahnya lekat-lekat, hingga panas tubuhnya pun terasa.
Aku puas…

Ada sesuatu yang selama ini aku takutkan
Dan semuanya menjadi terasa aman saat mataku menikmati setiap senti wajahnya, lehernya… sambil mendengar ceritanya.
Pepohonan pisang yang dibalut kain kotak-kotak bergoyang, dilewati angin semilir yang akhirnya menembus kami.
Menggetarkan api lilin kecil yang ada diatas meja ini.

Aku ingin lebih lama lagi duduk berdua denganmu disini sampai pagi…
Mengalahkan lorong-lorong waktu yang terus berputar disekeliling kita, dan kita tetap seperti ini, duduk, berdua, dan tertawa…

Kau sangat indah fu…
Kau inspirasi terbesarku saat ini…
Melihat kau tertawa, aku ingin menggoreskan tinta di langit
Melihat kau diam, aku ingin mengibas air laut dan menulis di dasarnya.
Melihat kau tersenyum, aku ingin menurunkan hujan dan mengukir tulisan di aspal yang basah…

Kau katakan, -someone special who make my life more brighter-
Sadarkah kau fu, kaulah sebenarnya cahaya yang membuat cerah itu…

Kau sangat cerah tanpa membuatku merasa silau.
Kau membuatku merasa keutuhanku tercermin.
Kau membuatku merasa semuanya pas…

Aku benar-benar ingin membawamu ke duniaku fu…
Dunia dimana ketulusan cinta dijunjung tinggi tanpa syarat
Dunia dimana logika dan fikiran disingkirkan
Yang digunakan hanya satu, hati…

Dunia dimana kau bisa sangat bahagia, sebahagia-bahagianya seorang manusia.

Aku janji fu…